MOSKWA, KOMPAS.com — Presiden Rusia Vladimir Putin
memerintahkan dilakukannya gencatan senjata selama 10 jam di Aleppo,
Suriah, mulai Jumat (4/11/2016).
"Sebuah keputusan dibuat untuk mengedepankan jeda kemanusiaan di Aleppo, mulai Jumat tersebut pukul 09.00 hingga 19.00."
Demikian diungkapkan Panglima Angkatan Bersenjata Rusia, Valery
Gerasimov, dalam pernyataan tertulis, Rabu (2/11/2016), seperti dikutip AFP.
Gerasimov menyebutkan, keputusan tersebut telah disetujui pula oleh lembaga otoritas Suriah.
Lebih jauh, Gerasimov menyebutkan, kebijakan ini diambil untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dari penduduk yang tak berdosa.
Dalam rentang waktu tersebut, warga sipil dan ataupun milisi bersenjata bisa keluar dari sisi timur Aleppo yang masih dikuasai oleh pemberontak.
Menurut
Gerasimov, ada delapan koridor yang bakal dipakai untuk menjalankan
misi itu. Enam koridor untuk warga sipil dan dua lainnya untuk milisi
bersenjata.
Jumat lalu, pasukan pemberontak memberikan perlawanan sengit untuk mematahkan pengepungan pasukan rezim di Aleppo.
Namun, perlawanan itu tak membuahkan hasil karena mendapatkan perlawanan yang tak kalah kuat dari pasukan pemerintah.
Aleppo mengalami masa buruk dengan serangkaian aksi kekerasan dalam konflik yang telah berlangsung selama lima tahun.
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, Selasa
kemarin, mengatakan, Rusia sudah menghentikan serangan udara ke Aleppo
sejak 16 hari terakhir.
Hal itu dilakukan setelah adanya kecaman dari warga
dunia, terkait langkah Rusia dan Suriah yang telah menewaskan banyak
warga sipil dan menghancurkan infrastruktur dalam operasi ini.
Dia menyebutkan, penghentian serangan udara telah dilakukan sejak menjelang gencatan senjata pada akhir bulan lalu.
Moskwa pada saat itu mengesampingkan perpanjangan gencatan senjata.
Baca: Rusia Tak Pikirkan Jeda Kemanusiaan Lagi di Suriah
Shoigu menuduh koalisi pimpinan AS gagal untuk mengendalikan pemberontak.
Sebaliknya, Moskwa dituduh melakukan kejahatan perang di Aleppo karena melakukan pengeboman membabi buta.
Moskwa telah melakukan kampanye pengeboman di Suriah untuk mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad sejak September 2015.
Lebih dari 300.000 orang telah tewas sejak perang Suriah. Protes pun mengalir deras terhadap pemerintahan Assad.
Sejak bulan Maret 2011, konflik ini menjadi perang
multi-front antara pemberontak, kelompok teroris, kelompok Kurdi, dan
pasukan rezim.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar